Sabtu, 23 Januari 2016

Kelompok 11

NAMA                 : ANGGREINI BUNGA ULI LUMBAN GAOL
KELAS                : 2KA35
NPM                    : 11114251





Pengertian Pos Transitoris
Pos Transitoris adalah pendapatan yang sudah diterima kasnya akan tetapi belum menjadi hak perusahaan, dan biaya yang sudah dibayar dengan kas akan tetapi belum menjadi kewajiban perusahaan.
Pada Pos Transitoris terdapat 2(dua) macam rekening,yaitu:
Pos Transitoris Aktif
Pos Transitoris Aktif adalah pos yang berhubungan dengan biaya –biaya yang sudah di bayar oleh perusahaan tetapi belum semuanya di manfaatkan oleh perusahaan. Contohnya perkiraan yang berhubungan dengan pos transitoris aktif sebagai berikut:
Persekot biaya / biaya dibayar di muka
Biaya dibayar dimuka adalah bagian dari asset perusahaan dalam kelompok aktiva lancar, yang merupakan klaim kepada pihak tertentu yang pelunasannya dalam bentuk selain kas, karena itu tidak dikelompokan kedalam kelompok piutang. Transaksinya debet biaya dibayar dimuka selalu menyebabkan pengurangan terhadap asset perusahaan dalam bentuk kas. Perbedaannya dengan piutang adalah : Kalau piutang diharapkan pembayarannya dalam bentuk kas sedangkan biaya dibayar dimuka diharapkan perusahaan memperoleh selain kas, misalnya barang atau jasa yang diperlukan perusahaan. Biaya dibayar dimuka timbul akibat pembelian barang, jasa atau aktiva lain yang belum diterima atau belum sepenuhnya diterima oleh perusahaan. Contoh dari akun biaya dibayar di muka adalah sewa dibayar di muka, asuransi dibayar di muka, iklan dibayar di muka, bunga dibayar di muka, dan sebagainya.

Pos Transitoris Pasif
Pos Transitoris Pasif adalah pos yang berhubungan dengan penghasilan yang sudah diterima oleh perusahaan tetapi sebenarnya belum menjadi hak perusahaan. Contoh perkiraan yang berhubungan dengan pos transitoris pasif sebagai berikut:
Pendapatan Diterima di Muka
Pendapatan diterima dimuka adalah penerimaan-penerimaan yang tidak merupakan pendapatan untuk periode yang bersangkutan, Penerimaan-penerimaan semacam ini akan tetap dilaporkan sebagai pendapatan yang diterima di muka sampai saat di mana penerimaan tadi diakui sebagai pendapatan,contohnya:
Penghasilan sewa di terima di muka
Sewa Dibayar di Muka adalah pengeluaran yang dilakukan oleh suatu entitas untuk sewa suatu aset milik pihak lain yang jangka waktunya lebih dari satu Periode Akuntansi.
Penghasilan bunga yang di terima di muka























Pengertian Pos Antisipasi
Pos Antisipasi adalah pendapatan yang belum diterima dalam bentuk kas akan tetapi sudah menjadi hak perusahaan, dan biaya yang belum dibayar dengan kas akan tetapi sudah menjadi kewajiban perusaahaan. 
Sama halnya dengan Pos Transaitoris, pos antisipasi dibagi menjadi dua rekening,yaitu:
Pos Antisipasi Aktif
Pos Antisipasi Aktif adalah pendapatan-pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan tetapi belum diterima kasnya. Transaksi ini dikenal dengan nama Pendapatan Yang Masih Akan Diterima atau Piutang Pendapatan. Contohnya: Perusahaan menyewakan gedung selama satu tahun terhitung dari 1 Juli 2006 sampai 30 Juni 2007. Biaya sewa selama satu tahun yaitu Rp. 8.000.000.00. dan diterima dibelakang pada 30 Juni 2007. Jika perusahaan membuat laporan keuangan pada 31 Juli 2006, maka pendapatan yang harus diterima untuk tahun 2006 adalah Rp. 200.000.00 yaitu sewa untuk jangka waktu 1 bulan terhitung dari 1 Juli 2006 sampai 31 Juli 2006 meskipun kasnya belum diterima. Pos antisipasi demikian menimbulkan adanya tagihan sewa yang akan dilaporkan sebagai aktifa yaitu sewa masih akan diterima.
Pos Antisipasi Pasif
Pos Antisipasi Pasif adalah beban-beban yang telah menjadi beban suatu periode akuntansi, akan tetapi belum dikeluarkan kasnya sampai pada akhir periode akuntansi yang bersangkutan.
Contoh transaksi yang berhubungan dengan pos ini adalah :
utang biaya gaji 
 utang biaya iklan







Pencatatan Pos Transitoris Aktif dan Pasif serta Pos dalam Pendekatan Neraca dan Pendekatan Laba Rugi
Menurut Donald E Kieso, (2004 : 391) mengemukakan sebagai berikut :
Pendekatan laba rugi (Income statement approach)
Pendekatan laba rugi (income statement approach) merupakan jumlah beban piutang tak tertagih dan kredit yang berkaitan pada akun penyisihan tidak dipengaruhi oleh setiap saldo yang ada saat ini dalam akun penyisihan, karena estimasi beban piutang tak tertagih berhubungan dengan akun nominal (penjualan) dan setiap saldo dalam akun penyisihan diabaikan. Karenanya penandingan biaya dengan pendapatan secara tepat akan tercapai.
Pendekatan neraca (Balance sheet approach)
Sedangkan pendekatan neraca (balance sheet approach), berdasarkan pengalaman masa lalu, sebuah perusahaan dapat mengestimasikan presentase piutang beredarnya yang tidak akan tertagih, tanpa mengidentifikasi piutang tertentu. Prosedur ini menyediakan estimasi yang cukup akurat menyangkut nilai piutang yang dapat direalisasi, tetapi tidak sesuai dengan prinsip penandingan biaya dan pendapatan  dan  tujuan dari metode ini adalah melaporkan nilai realisasi bersih piutang dalam neraca
Berikut ini adalah contoh dari pencatatan dengan menggunakan pendekatan neraca dan pendekatan laba rugi:
Pencatatan pendekatan neraca dan pendekatan laba rugi untuk pos transitoris aktif:

 Pendekatan neraca Pendekatan laba / rugi
 - waktu mencatat - waktu mencatat
 Persekot biaya Rp xx Biaya ……. Rp xx
          Kas Rp xx        Kas R p xx
 - Waktu penyesuaian - waktu penyesuaian
 Biaya ……. Rp xx Persekot biaya Rp xx
 Persekot biaya Rp xx          Biya …. Rp xx
 
 
Pencatatan pendekatan neraca dan pendekatan laba rugi untuk pos transitoris pasif:
 Pendekatan neraca Pendekatan laba - rugi
 - Waktu mencatat - waktu mencatat
 Kas                              Rp xx - Kas                              Rp xx
          Utang penghasilan           Rp xx             Penghasilan sewa          Rp xx
 - Waktu penyesuaian -Waktu penyesuaian
 Utang penghasilan        R p xx Penghasilan sewa           Rp xx
          Penghasilan sewa             Rp xx              Utang penghasilan        Rp xx















Pencatatan Pos Antisipasi Aktif dan Pasif
Pos antisipasi aktif merupakan pendapatan yang diterima di belakang. Pendapatan untuk perioda tertentu yang belum diterima uangnya diakui melalui jumal penyesuaian pada akhir perioda. Jurnal penyesuaian tersebut dibalik pada hari kerja pertama perioda berikutnya.Penerimaan kas dicatat dengan mendebit rekening Kas dan mengkredit rekening Pendapatan. 
 Contoh pencatatannya
 Piutang Penghasilan                              Rp xx
          Penghasilan           Rp xx

Pos antisipasi pasif merupakan biaya yang dibayar di belakang. Biaya untuk perioda tertentu yang belum diterima uangnya diakui melalui jumal penyesuaian pada akhirperioda. Jurnal penyesuaian tersebut dibalik pada hari keria pertama perioda berikutnya.Pembayaran kas dicatat dengan mendebit rekening biaya dan mengkredit rekening Kas.
 Contoh pencatatannya
 Biaya                              Rp xx
          Hutang           Rp xx





Contoh Permasalahan yang berkaitan dengan rekening Pos Transitoris Aktif dan Pasif serta Pos Antisipasi Aktif dan Pasif
Ada dua cara pencatatan pada waktu melakukan pembayaran beban ( biaya ) :
Pendekatan Neraca, yaitu pembayaran beban dicatat dalam rekening “ Beban dibayar di muka “
Pendekatan Rugi Laba, yaitu pembayaran beban dicatat dalam rekening “ Beban….”

Contoh :
Pada Tanggal 1 April 1990 membayar premi asuransi untuk satu tahun Rp. 240.000,00.

Jika menggunakan pendekatan neraca, transaksi tersebut dicatat dalam rekening :

Asuransi dibayar dimuka ( Debet ) Rp. 240.000,00
Kas ( Kredit ) Rp. 240.000,00

Jumlah tersebut akan tetap terlihat pada rekening asuransi dibayar di muka di neraca saldo 31 Desember 1990.
Sampai dengan tanggal 31 Desember 1990 tersebut sebenarnya asuransi yang sudah dimanfaatkan adalah 9 bulan ( 1 April 1990 – 31 Desember 1990 ). Ini berarti sejumlah Rp. 180.000,00 ( 9/12 x Rp. 240.000,00 ) sudah menjadi beban tahun 1990. Maka jumlah tersebut harus dipindahkan dari rekening “ Asuransi dibayar dimuka “ ke rekening “ Beban Asuransi “ dengan jurnal penyesuaian :

Beban Asuransi Rp. 180.000,00
Asuransi dibayar di muka Rp. 180.000,00



Jika menggunakan Pendekatan Rugi Laba , transaksi pada contoh di atas pada tanggal 1 April 1990, dicatat dalam rekening :

Biaya Asuransi ( debet ) Rp. 240.000,00
Kas ( Kredit ) Rp. 240.000,00

Sampai dengan tanggal 31 Desember 1990 sebenarnya yang sudah menjadi beban baru 9 bulan ( Rp. 180.000,00 ). Sedangkan sisanya ( Rp. 60.000,00 ) bukan merupakan beban tahun 1990.
Maka jumlah yang eblum merupakan beban tersebut harus di pindahkan dari rekening ” Biaya Asuransi “ ke rekening “Asuransi dibayar di muka “ , dengan jurnal penyesuaian :

Asuransi dibayar di muka Rp. 60.000,00
Beban Asuransi Rp. 60.000,00

Pada waktu menerima pendapatn pada umumnya dicatat dalam rekening pendapatan ( Pendekatan Rugi – Laba ), tetapi kadang – kadang pendapatan yang diterima untuk lebih dari satu periode dicatat dalam rekening Pendapatan diterima di muka ( Pendekatan neraca ).

Contoh :

Pada tanggal 1 Juli 1990 diterima sewa untuk 2 tahun Rp. 2.000.000,00.

Jika mengunakan pendekatan neraca transaksi tersebut di catat dalam rekening :

Kas ( debit ) Rp. 2.000.000,00
Sewa diterima di muka ( kredit ) Rp. 2.000.000,00

Jumlah tersebut akan tetap terlihat pada rekening sewa diterima di muka di neraca saldo 31 Desember 1990.
Sampai dengan tanggal 31 Desember 1990 tersebut, sebenarnya yang sudah merupakan pendapatan tahun 1990, adalah 6 bulan ( 1 Jli 1990 – 31 Desember 1990) = 6/24 x Rp. 2.000.000,00 = Rp. 500.000,00. Sedang selebihnya ( Rp. 1.500.000,00 ) belum merupakan pendapatan tahun 1990.
Karena pada saat penerimaan sewa dicatat dalam rekening sewa diterima di muka maka untuk jumlah yang sudah merupakan pendapatan tahun 1990 harus dipindahkan ke rekening Pendapatan Sewa dengan jurnal Penyesuaian  sebagai berikut :

Sewa diterima di muka Rp. 500.000,00
Pendapatan sewa Rp. 500.000,00

Jika menggunakan pendekatan Rugi – Laba, transaksi di atas dicatat dalam rekening :

Kas ( debit ) Rp. 2.000.000,00
Pendapatan sewa ( kredit ) Rp. 2.000.000,00

Sampai dengan tanggal 31 Desemmber 1990, sebenarnya yang sudah merupakan pendapatan tahun 1990 adalah Rp. 500.000,00. Sedang selebihnya ( Rp. 1.500.000,00 ) belum merupakan pendapatan.
Jumlah ini harus dipindahkan ke rekening Pendapatan Sewa diterima di muka dengan jurnal penyesuaian :

Pendapatan sewa Rp. 1.500.000,00
Sewa diterima di muka Rp. 1.500.000,00







Perusahaan membayar gaji pegawai mingguan tiap hari sabtu. Tarif gaji Rp.  40.000,00 per hari. Pembayaran gaji terakhir tanggal 27 Desember dengan demikian gaji karyawan tanggal 29, 30, dan 31 Desember belum di bayar karena baru akan di bayar pada hari Sabtu tanggal 3 Januari tahun berikutnya. Ini berarti sampai akhir periode akuntansi terdapat gaji yang beluum di bayar 3 hari @ Rp. 40.000,00 = Rp. 120.000,00.

Jurnal penyesuaiannya:
Beban gaji Rp.   120.000,00
Utang gaji Rp.  120.000,00

Suatu perusahaan menyimpan uang di Bank Pasifik, Rp.  1.000,000,00 pada tangggal 1 September 1990. Suku bunga 18%, bunga di terima 6 bulan sekali (tiap 1 Maret – 1 September).
Ini berarti bunga 6 bulan pertama baru akan di terima tanggal 1 Maret 1991 sehingga sampai akhir periode akuntansi, terdapat bunga yang di tunda penerimaannya selama 4 bulan (1 September – 31 Desember) yaitu 4/12 x 18% x Rp. 1.000.000,00 = Rp.  60.000,00.

Jurnal penyesuaiannya:

Piutang bunga Rp. 60.000,00
Pendapatan bunga Rp. 60.000,00


.




Jumat, 22 Januari 2016

Kelompok 10

Nama             : Anggreini Bunga Uli Lumbam Gaol
NPM               : 11114251
Kelas.             : 2KA35

Utang dan Piutang

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang
Piutang dalam suatu lingkup usaha merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Piutang terjadi sebagai akibat dari penjualan barang atau jasa secara kredit kepada pelanggan. Pemberian jangka waktu kepada pelanggan untuk melunasi kewajibannya merupakan kebijakan tersendiri dari setiap perusahaan.
Pemberian kelonggaran pembayaran kewajiban kepada pelanggan ini dapat menguntungkan dan merugikan perusahaan. Pemberian piutang akan meningkatkan aktivitas dalam suatu perusahaan karena pelanggan diberikan kemudahan atau keringanan dalam membayar kewajibannya kendati sudah mendapatkan barang atau sudah menikmati jasanya. Pemberian piutang ini bisa juga semakin memperbanyak cakupan bisnis suatu perusahaan. 
Namun disisi lain piutang dapat menimbulakam kerugian. Hal ini berkaitan dengan ketidakpastian dalam pembayaran piutang. Piutang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan karena untuk masa kedepan akan ada kemungkinan debitur tidak sanggup membayar kewajibannya.
Oleh karena itu dalam memberikan piutang kepada pelanggan perusahaan juga harus mempunyai bebarapa pertimbangan tersendiri. Selain itu perusahaan juga harus mempertimbangkan untuk membuat penyisihan jika terjadi kemungkinan debitur tidak sanggup untuk membayar utangnya.


BAB II
ISI

Piutang & Utang
Piutang adalah Tagihan yang ditujukan baik itu kepada individu-individu maupun kepada perusahaan lain yang akan diterima dalam bentuk kas.
Utang adalah Beban perusahaan atau individu yang timbul karena terjadinya transaksi atau pinjam meminjam uang kepada pihak lain.

Jenis-Jenis Piutang
PiutangDagang/ Piutang Usaha
Piutang dagang terjadi karena adanya transaksi penjualan secara kredit kepada pihak lain/perusahaan lain.
Piutang Wesel
Piutang wesel merupakan janji tertulis yang dibuat oleh pihak debitor (yang berutang) kepada pihak kreditor (yang memberi utang) untuk membayar sejumlah uang seperti yang tertera dalam surat janji tersebut pada waktu yang telah ditentukan dimasa yang akan datang. Jangka waktu piutang wesel pada umumnya paling sedikit 60 hari.
Piutang Lain – lain
Piutang lain-lain meliputi piutang non usaha seperti pinjaman kepada karyawan maupun pinjaman kepada pihak lain yang tidak berkaitan dengan usaha. Piutang lain-lain terdiri atas macam-macam tagihan yang tidak termasuk dalam piutang dagang maupun piutang wesel.

Perbedaan Masing-masing Jenis Piutang 

 Piutang Dagang/Usaha Piutang Wesel Piutang lain-lain
 Jangka waktu kurang dari 1 tahun 
2/10, n/30 Jangka waktu bermacam-macam tetapi pada umumnya paling sedikit 60 hari Jangka waktu lebih dari satu tahun atau termasuk dalam piutang jangka panjang.
 Dimasukkan dalam aktiva lancar Bagian yang jatuh temponya dalam waktu 1 tahun diperlakukan sebagai aktiva lancar, sedangkan yang lebih dari satu tahun piutang jangka panjang Pada umumnya termasuk dalam piutang jangka panjang.
 Berkaitan dengan operasi utama perusahaan sehingga harus dapat ditagih Mensyaratkan adanya jaminan sehingga jika saat jatuh tempo tidak dapat melunasi maka jaminan tersebut dapat dijual Tidak berkaitan dengan operasi sehari-hari dan biasanya dilaporkan dineraca sebagai kelompok aktiva tidak lancar.


Pengertian Piutang dan Utang Wesel
Piutang wesel 
Tagihan kepada pelanggan dari transaksi usaha yang dilengkapi dengan instrumen kredit berupa wesel, promes, ataupun aksep dan akan diterima dalam bentuk uang tunai di masa mendatang.
Utang Wesel
Perusahaan menandatanganipromes (wesel) untuk menarik pinjaman jangkapendek dari bank.
Jenis-Jenis Utang Wesel
Utang Wesel Berbunga
Untuk wesel yang berbunga, bank akan membayar sebesar nilai nominalnya.
Utang Wesel takberbunga
Untuk wesel tanpa bunga akan dibayar oleh bank sebesa rnilai nominal ditabah dengan bunga.

Karakteristik Wesel
Wesel memiliki karakteristik yang mempengaruhi pencatatan dan pelaporan dala laporan keuangan. Berikut ini akan dijelaskan karakteristik - karakteristik tersebut :
Tanggal Jatuh Tempo
Tanggal jatuh tempo (due date atau maturity date) adalah tanggal suatu wesel harus dibayarkan. Dalam hal ini ada 2 keungkinan :

Wesel Harian, wesel dinyatakan dalam hari maka tanngal jatuh temponya dinyatakan dalam jumlah harian setelah tanggal penerbitan. contoh : tanggal penerbitan 12 Januari 2008 dengan uur 60 hari, maka jatuh teponya tanggal..

Januari 31 - 12   = 19 hari
Februari              = 28 hari
Maret                  = 13 hari     +
= 60 hari

Maka jatuh tempo tanggal 13 Maret 2008

Wesel bulanan, wesel dinyatakan dalam bulan, maka tanggal jatuh temponya ditentukan dengan menghitung beberapa bulan ke depan dati tanggal penerbitan. Contoh : wesel berjangka waktu 3 bulan tertanggal 5 Juni 2008 akan jatuh tempo pada tanggal 5 September 2008
Bunga
Wesel biasanya menetapkan julmah bunga yang akan di bayarkan untuk periode antara tanggal penerbit dan tanggal jatuh tepo. Suku bunga didasarkan atas :


Piutang Wesel dapat dipindahtangankan dan ada yang tidak dapat dipindahtangankan. Jika wesel dapat dipindahtangankan artinya adalah yang membuat wesel akan membayar pada orang (badan) yang memegang wesel tersebut pada saat jatuh tempo.
Wesel yang dapat dipindahtangankan dapat didiskontokan ke bank sebelum jatuh
temponya.

Piutang Wesel biasanya timbul karena :
- terjadinya transaksi penjualan secara kredit
- pemberian pinjaman uang
- perubahan piutan dagang menjadi piutang wesel.


Perhitungan Bunga dan Diskonto

Perhitungan Bunga atas Utang Wesel maupun Piutang Wesel



Contoh :

Pada 1 Juni 2014 PT ABADI menjual barang dagangan kepadaFa.Andi dan Rekan dengan harga jual (setelah dikurangi rabat) Rp 300.000. Untuk itu, Fa.Andi dan Rekan menyerahkan wesel dengan nilai nominal Rp 300.000, jangka panjang waktu 6 bulan, bunga 24 %. Wesel ditanda tangani dan diserahkan pada 1 Juni 2014.Oleh karena jangka waktunya 6 bulan, maka tanggal jatuh temponya adalah 1 Desember 2014. Hitunglah jumlah yang diterima pada saat jatuh tempo ?
Jawaban :

Nilai nominal = Rp. 300.000
Bunga = Rp 300.000 x 24% x 6/12 = RP. 36.000    +
Nilaisaatjatuh tempo = Rp. 336.000

Pendiskontoan Wesel
Pemegang wesel dapat mendiskontokan wesel kepihak lain sebelum tanggal jatuh tempo apabila ia membutuhkan uang dengan segera.
Pada pendiskontoan wesel, perusahaan menyerahkan wesel kepada bank, kemudian bank membayar kepada perusahaan dengan potongan (diskonto) tertentu.

Besarnya diskonto dihitung sebagai berikut:

 Diskonto = Nilai jatuh tempo x % Diskonto x Periode pemegang wesel bagi pendiskonto

Contoh :
Pada tanggal 1 Nopember 2014, PT Adi Laksamana mendiskontokan wesel berikut ke bank bni dengan diskonto 18 %. Nominal Rp 300.000.Tanggal Wesel 1 September 2014, jangka waktu wesel 6 bulan, tanggal jatuh tempo 1 Maret 2015, dan bunga wesel 24 %. Pendiskontoan dilakukan pada 1 Nopember 2014, maka bank BNI akan memegang wesel selama 4 bulan terhitung mulai 1 Nopember 2014 sampai 1 Maret 2015. Berapakah jumlah yang diterima oleh PT Adi Laksamana atau yang dibayar oleh bank BNI pada tanggal pendiskontoan wesel bunga dan wesel takberbunga ?

Jawaban :

Wesel takberbunga :

Nilai Jatuh tempo = nilai nominal = Rp. 300.000
Diskonto :
Rp 300.000 x 18% x 4/12 = Rp.   18.000   -
Kas diterima = Rp. 282.000

Jurnal yang dibuat pihak yang mendiskontokan wesel untuk mencatat pendiskontoan wesel di atas adalah :

Kas Rp. 282.000,00
Biaya Bunga Rp.       18.000,00
Pihutang Wesel Rp. 300.000,00
(Piutang wesel didiskontokan)

Wesel berbunga :

Nilai nominal = Rp. 300.000
Bunga :Rp 300.000 x 6/12 x 24 % = Rp.   36.000    +
Nilai saat jatuh tempo = RP. 336.000

Diskonto :
Rp 336.000 x 18% x 4/12 = Rp.   20.160    -
Kas diterima = Rp. 315.840

Jurnal yang dibuat pihak yang mendiskontokan wesel untuk mencatat pendiskontoan wesel di atas adalah :

Kas Rp. 315.840,00
Pihutang Wesel Rp. 300.000,00
(Pihutang wesel didiskontokan)
Pendapatan Bunga Rp.       15.840,00

Piutang Tak Tertagih
Penjualan secara kredit akan menimbulkan keuntungan sekaligus kerugian. 
Kerugian yang dialami oleh perusahaan meningkat karena meningkatnya jumlah piutang yang tidak ditagih. Kerugian ini disebut beban piutang tak tertagih. 
Pencatatan :
Kerugian Penurunan Nilai Piutang Usaha             XX
Cadangan Penurunan Nilai Piutang Usaha          XX

Pengertian Piutang Tak Tertagih
Piutang Tak Tertagih yaitu klaim terhadap pihak tertentu atas uang, barang dan jasa yang tidak tertagih atau kerugian yang ditimbulkan atas penjualan secara kredit. Piutang tak tertagih adalah piutang pelanggan kepada perusahaan yang belum tentu bisa ditagih, antara lain karena pelanggan menghilangkan diri atau memang karena tidak mampu membayar.
Kerugian pendapatan yang memerlukan melalui jurnal pencatatan tepat pada akun, penuruan aktiva piutang usaha serta penurunan yang berkaitan dengan laba

Penghapusan Piutang
Apabila taksiran kerugian piutang benar-benar terjadi, maka piutang harus kita hapus.
Hanya pejaba berwenanglah yang boleh menyatakan hapusnya piutang. 
Pencatatan penghapusan piutang:
Cadangan Penurunan Nilai Piutang Usaha    XX
Piutang Usaha                                                XX 

PencatatankembaliPiutang yang telahdihapus
Kadangkala perusahaan dapat menagih atau menerima kas dari pelanggan yang sudah dihapus.
Pencatatan penerimaan kas dari pelanggan yang sudah dihapus memerlukan dua buah jurnalyaitu :
Piutangusaha                                                         xx
Cadangan Penurunan Nilai Piutang Usaha              xx

(mencatat timbulnya kembali piutang)
Kas                             xx
Piutangusaha             xx

(mencatat penerimaankas)
Bisa menggunakan jurnal sebagai berikut :
Kas                             xx
Cadangan Penurunan Nilai Piutang Usaha              xx  

TaksiranKerugianPiutang
Terdapat dua dasar untuk menaksir jumlah kerugian piutang atau penurunan nilai piutang.Dua dasar tersebut adalah :
Persentase dari penjualan satu periode (Pendekatan laba rugi)
Persentase dari saldo piutang akhir periode (Pendekatan neraca)



Rabu, 25 November 2015

Kelompok 8

NAMA       : ANGGREINI BUNGA ULI LUMBAN GAOL
NPM         : 11114251
KELAS      : 2KA35

PENGERTIAN BUKU HARIAN
1.1. Pengerian Buku Harian

Buku Jurnal adalah Buku harian untuk mencatat transaksi keuangan menurut urutan tanggal ke dalam kelompok akun debet dan akun kredit. Dalam akuntansi keuangan dikenal dua jenis buku jurnal, yaitu jurnal umum dan jurnal khusus. Jurnal Umum digunakan sebagai media untuk mencatat seluruh jenis transaksi keuangan tanpa terkecuali. Buku jurnal khusus digunakan sebagai media untuk mencatat transaksi-transaksi tertentu yang menjadi bagian dari jurnal khusus yang bersangkutan. Dalam Praktik, perusahaan dapat memilih penggunaan jenis buku jurnal sesuai dengan kebutuhannya. Adapun dasar pemilihan jenis buku jurnal yang akan digunakan adalah faktor efesiensi dan efektifitas bagi perusahaan tersebut.
Dalam Pembahasan kali ini akan dibahas tentang jurnal umum. Tujuan penjurnalan adalah untuk  mengidentifikasi,menilai, dan mencatat  dampak  ekonomi  dari  transaksi terhadap perusahaan secara kronologis, untuk  mempermudah pemindahan ke dalam perkiraan.  Menjurnal atau penjurnalan adalah proses pencatatan transaksi keuangan kedalam buku jurnal sesuai urutan terjadinya. Pencatatan transaksi ke dalam jurnal umum ini merupakan tahap kedua dari Siklus Akuntansi setelah kita Menganalisa Bukti Transaksi.


Pengertian Jurnal Khusus

Jurnal khusus adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi secara berulang-ulang. Dan jurnal khusus biasanya dirancang untuk mencatat transaksi tertentu secara khusus. Misalnya transaksi penerimaan tunai dicatat pada satu buku harian, pembelian kredit dicatat pada suatu buku harian dan seterusnya. Sehingga kapan saja informasi diperlukan, jurnal khusus dapat memberikan informasi secara cepat dan tepat.
Pengertian transaksi adalah suatu aktifitas perusahaan yang menimbulkan perubahan terhadap posisi harta keuangan perusahaan, misalnya seperti menjual, membeli, membayar gaji, serta membayar berbagai macam biaya yang lainnya
Fungsi jurnal khusus 
Meringankan pekerjaan karena mudah diposting ke Buku besar
Memungkinkan dilakukannya pembagian kerja
Menghemat biaya dan tenaga
Pengendalian internal bisa dilaksanakan dengan baik

Manfaat penggunaan jurnal khusus:
Memungkinkan pembagian pekerjaan
Memudahkan pemindahbukuan ke buku besar
Memungkinkan pengendalian intern yang lebih baik
Memudahkan pencatatan dengan sistematis
Lebih efektif dan efisien
Pemrosesan data lebih cepat


B. Jurnal khusus terdiri dari 5 macam yaitu :
Jurnal Pembelian(Purchases Journal): Jurnal untuk mencatat transaksi pembelian secara kredit. Pada akhir periode, jurnal pembelian akan diposting ke dalam buku besar dengan mendebit akun pembelian dan mengkredit akun utang dagang. Buku tambahan yang dibuat untuk membantu mencatat dalam jurnal ini adalah buku utang dan buku persediaan.
Keuntungan Jurnal Pembeli:
Memudahkan dalam pencatatan transaksi
Mudah mencarinya, karena transaksi yang ada dijurnal ini hanya memuat tentang transaksi pembelian, jadi jika transaksi dalam suatu perusahaan itu banyak, mudah untuk menemukannya, tinggal cari dijurnal pembelian.
Jika jurnal pembelian hanya digunakan untuk mencatat pembelian barang dagangan secara kredit dapat berbentuk sebagai berikut:
Jurnal pembelian                                                                     Halaman…………
 Tanggal No
Faktur Keterangan Syarat
Pembayaran Ref Jumlah
 1) 2) 3) 4) 5) 6)
Keterangan;
Kolom tanggal untuk mencatat tanggal terjadinya transaksi pembelian.
Untuk mencatat nomor faktur atas pembelian barang dagangan.
Tempat mencatat nama dan alamat kreditur, darimana perusahaan membeli barang dagangan tersebut.
Untuk mencatat syarat pembayaran sebagaimana tercatum dalam faktur, misalnya 2/10,n/30
Tempat memberi tanda ( v ) setelah jumlah tersebut dipindahkan kerekening-rekening buku besar pembantu yang sesuai.
Tempat mencatat jumlah rupiah sesuai dengan yang tercatat dalam faktur.
Jika jurnal pembelian digunakan untuk mencatat semua pembelian secara kredit, baik untuk barang dagangan maupun lain-lain, maka disediakan kolom untuk rekening-rekening yang sering berulang terjadi, sedangkan untuk rekening yang jarang terjadi disediakan kolom serba-serbi, sehingga bentuknya dapat sebagai berikut:
Jurnal Pembelian                                                                                         Halaman ………
 Tanggal No. Faktur Keterangan Syarat
Pemba-yaran Ref Debet Kredit
 ￿ ￿ ￿ ￿ ￿ Pembe- lian Perleng – kapan Serba Serbi Utang
Dagang
 ￿ ￿ ￿ ￿ ￿ Ref Rekening Jumlah ￿
Keterangan :
Jika terjadi pembelian barang yang kolomnya sudah tersedia maka pencatatannya dilakukan sebagai berikut :
–   Mencatat tanggal kejadian, nomor faktur dan syarat pembayaran pada kolom yang     tersedia.
–  Mencatat nama dan alamat kreditur pada kolom keterangan.
–  Mencatat jumlah rupiah pada sisi debet di kolom rekening yang sesuai dan pada sisi    kredit pada kolom utang dagang.
Jika terjadi pembelian barang secara kredit sedangkan kolomnya tidak tersedia secara khusus, maka nama rekening dan jumlahnya dicatat pada kolom serba-serbi, dan selanjutnya jumlahnya dicatat pula pada sisi kolom utang dagang.

Kelompok 7

NAMA      : ANGGREINI BUNGA ULI LUMBAN GAOL
NPM         : 11114251
KELAS.    : 2KA35


Pengertian Perusahaan Dagang

A. Pengertian Perusahaan Dagang
Perusahaan Dagang adalah perusahaan yang kegiatan usahanya membeli barang dengan tujuan menjualnya kembali tanpa memprosesnya lebih dulu. Contoh-contoh perusahaan dagang antara lain Toko, Supermarket, Grosir, Pusat-pusat Perbelanjaan, Perusahaan Ekspor-Impor dan lain-lain.


B. Ciri-ciri Perusahaan Dagang

1. Pendapatan utamanya berasal dari penjualan barang dagangan ;

2. Biaya utamanya berasal dari harga pokok barang yang terjual dan biaya usaha lainya ;

3. Dalam akuntansinya terdapat akun persediaan barang ;

4. Sebagai perantara antara produsen dan konsumen ;

5. Antara barang yang dibeli dan barang yang dijual tidak ada perubahan ;

6. Tujuan utamanya mencari laba dengan menjual barang dengan harga lebih tinggi dibanding harga belinya.

Ciri – ciri khas Akun Perusahaan Dagang adalah sebagai berikut :

1. Akun Pembelian (D)
Terjadi karena perusahaan membeli barang dagang dengan tujuan dijual kembali. Pembelian ini dapat dilakukan dengan pembelian tunai, kredit dan sebagian pembayaran.
2. Akun Penjualan (K)
Terjadi karena perusahaan menjual barang-barang dagang yang diperoleh dari pemasok bertujuan untuk memperoleh laba. Penjulan dilakukan dengan cara tunai, kredit dan dengan sistem uang muka yang sisanya dapat diangsur dengan syarat pembayaran dan syarat penyerahan. Dasar pencatatannya dengan faktur jika kredit dan bukti penerimaan kas jika tunai.
3. Akun Potongan Pembelian (K)
Terjadi karena penjual memberikan potongan kepada pembeli, dengan tujuan agar pembeli melunasi utangnya sebelum jatuh tempo. Selama masih dalam masa potongan, maka utang yang dibayar adalah harga faktur dikurangi denagan potongan yang diterima.

4. Akun Potongan Penjualan
Merupakan pencatatan atas potongan yang diberikan oleh penjual bertujuan agar tagihannya dapat segera dilunasi. Jadi, jumlah yang diterima oleh penjual sebesar jumlah tagihan dikurangi potongan yang diberikan.
5. Akun Rektur Pembelian
terjadi karena pembeli mengembalikan senagian barang yang telah dibeli atau sebagian rusak dan tidak sesuai pesanan. Jika dibeli secara tunai maka penjual akan memgembalikan besarnya retur dengan tunai juga. Tetapi jika secara kredit maka besarnya retur akan mengurangi harga fakturnya.
6. Akun Retur Penjualan
Terjadi karena penjual menerima kembali sebagian barang yang telah dijual karena mutunya tidak sesuai pesanan. Pengembalian ini akan mengurangi tagihan kepada pembeli.
7. Akun Biaya Angkut
Terjadi ketika pembeli harus membayar ongkos agar barang yang dibeli samapai kegudang pembeli. Dengan demikian harga perolehanya terdiri dari harga beli barang ditambah beban angkutnya.
8. Akun Biaya Pengiriman
Terjadi karena penjual mengirim barang dari penjual sampai ditempat pembeli, karena pada saat transaksi jual beli telah dicantumkan dalam syarat penyerahan bahwa penjual menanggung ongkos kirim.
9. Akun Persedian
Merupakan nilai persediaan barang dagangyang belum terjual pada akhir periode akuntansi.
10. Akun Utang Dagang
Terjadi karena masih terdapat sisa pembayaran dari suatu pembelian oleh suatu perusahaan dagang.
11. Akun Piutang Usaha
Digunakan untuk mencatat sisa-sisa harga pembelian yang dilakukan oleh pembeli atau semua sisa harga penjualan yang belum dibayarkan.
12. Akun Harga Pokok Penjualan (HPP)
Untuk menapung harga pokok/harga beli barang yang dijual dalam suatu periode akuntansi.

D. Format harga pokok barang yang dibeli

Pembelian
Retur pembelian
Potongan pembelian
Rp……….
Rp………. + Rp……….
Rp………. –
Pembelian bersih
Ditambah beban angkut pembelian Rp……….
Rp………. +
Harga pokok barang yang dibeli Rp……….

Format pokok penjualan

Persediaan barang dagangan (awal Periode)

Pembelian
Retur pembelian
Potongan pembelian

Rp……….
Rp………. Rp……….

Rp……….
Pembelian bersih (hasil pembelian – Retur + Potongan)
Beban angkut Rp………
RP……… +

Harga pokok barang yang dibeli

Barang dagangan tersedia unuk dijual
Persediaan barang dagangan (akhir periode)

Rp………

Rp………
Rp……… –

Harga poko penjualan
Rp………

1. Akun Prive
Adalah akun yang digunakan untuk mencatat setiap pengambilan kas yang dilakukan oleh pemilik perusahaan yang sifatnya untuk keperluan pribadi.
Akun Pendapatan Usaha
2. Digunakan untuk mencatat hasil dari penjualan perusahaan, yang berupa kas ataupun piutang.
3. Akun Persedian Barang Dagang
Digunakan untuk mencatat persediaan barang dagang awal dan akhir periode. Akun ini juga menjelaskan tentang perubahan modal antara awal sampai dengan akhir periode.

KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAGANG


Macam – Macam Perusahaan Dagang

Pedagang Besar (Whole Saler) adalah pedagang yang membeli barang dari pabrik kemudian menjualnya kepada pedagang kecil.

Pedagang Kecil (Retailer) adalah pedagang yang membeli barang dari pedagang besar kemudian menjualnya kepada konsumen.

Kegiatan Usaha / Operasional meliputi :

Membeli barang dagangan

Menyimpan barang dagangan sebelum dijual

Menjual barang dagangan

Pendapatan Usaha/ Operasinal
Yang merupakan pendapatan usaha dari perusahaan dagang adalah penjualan barang dagangan, sedangakan pendapatan yang diperoleh dari luar usaha dagang disebut pendapatan diluar usaha.

Beban Utama

Harga pokok barang dagangan yang telah laku dijual

Beban usaha/operasional terbagi 2, yaitu beban penjualan, dan beban umum dan administrasi

e. Transaksi Perusahaan Dagang
Pembelian

1. Biaya angkut pembelian
Retur pembelian dan pengurangan harga

2. Potongan pembelian
A). Penjualan

Retur penjualan dan pengurangan harga

B). Potongan penjualan

C). Pengeluaran

D). Penerimaan
E). Syarat pembayaran dan penyerahan barang
F). Syarat Penyerahan Barang

F). FOB Shipping Point
Free Onboard Shipping Point berarti pembeli harus menangung biaya pengiriman barang dari gudang penjual kegudangnya sendiri.
H). FOB Destination Point
Free Onboard Destination Point berarti penjual yang harus menanggung beban.
Cost, Freight and Insurance
Berarti penjual harus menanggung beban pengiriman dan asuransi kerugian atas barang yang di jualnya.

Syarat – Syarat Pembayaran

n/60 artinya pembeli hanya diberi waktu kredit selama 60 hari

2/10, n/30 artinya pembeli hanya diberi waktu kredit selama 30 hari, dan bila dapat membayar paling lambat 10 dari tanggal jual beli akan diberi potongan 2%

EOM artinya pembeli hanya diberi waktu kredit paling lambat aakhir bulan

N/5, EOM artinya pembeli diberi waktu kredit sampai 5 hari setelah akhir bulan paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya.

PENCATATAN TRANSAKSI AKUNTANSI

Jurnal Umum
Adalah alat untuk mencatat transaksi perusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan waktu terjadinya) dengan menunjukan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing – masing.
Pencatatan transaksi kedalam jurnal umum
Pembelian barang dagang

Pembeli
Dijurnal dengan :
Pembelian (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Pembelian kredit
Dijurnal dengan :
Pembelian (D) Rp……
Utang Dagang (K) Rp…

Biaya Angkut Pembelian
Dikeluarkan untuk ongkos angkut barang dagangan yang dibeli
Dijurnal dengan :
Biaya Angkut Pembelian (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Retur Pembelian dan Pengurangan Harga (PH)

Potongan Pembelian

Pembelian tunai
Dijurnal dengan :
Pembelian (D) Rp……..
Kas (K) Rp…….
Potongan Pembelian (K) Rp…….

Pembelian kredit
Dijurnal dengan :
Utang Dagang (D) Rp……..
Kas (K) Rp……..
Potongan Pembelian (K) Rp…….
Penjualan

Penjualan tunai
Dijurnal dengan :
Kas (D) Rp……..
Penjualan (K) Rp…..

Penjualan kredit
Dijurnal dengan :
Piutang Dagang (D) Rp……..
Penjualan (K) Rp……..

Retur Penjualan

Penjualan tunai
Dijurnal dengan :
Retur Penjualan (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Penjualan  kredit
Dijurnal dengan :
Retur Penjualan (D) Rp…….
Hutang Dagang (K) Rp……..

Potongan Penjualan
Potongan penjualan tunai
Dijurnal dengan :
Potongan Penjualan (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Potongan Penjualan kredit (dapat terjadi bersamaan dengan penerimaan piutang)
Dijurnal dengan :
Kas (D) Rp…….
Potongan Penjualan (D) Rp…….
Piutang Dagang (K) Rp……

Jurnal Khusus
Adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi – transaksi keuangan yang sejenis yang sering kali terjadi sesuai dengan urutan waktu terjadinya.
Macam – Macam Jurnal Khusus
Jurnal Khusus Pengeluaran Kas
Adalah pegeluaran uang dari Kas untuk kegiatan perusahaan. Misalnya Pembayaran Atas Pembelian Tunai, Pembayaran Utang dan Pembayaran Beban.
Format Jurnal Khusus Pengeluaran Kas

Contoh :
1 Des perusahaan membayar atas pembelian pada bulan Nov kepada CV. Panuntun Mulia Rp. 1.500.000,-
10 Des, dibeli barang secara tunai dari Fa. Seruni Semarang Rp. 5.000.000,-
Dijurnal dengan :
Des 1 Utang dagang (D) Rp. 1.500.000,-
Kas (K) Rp. 1.500.000,-

Des 10 Pembelian (D) Rp. 5.000.000,-
Kas (K) Rp. 5.000.000,-

Jurnal Khusus Penerimaan Kas
Adalah penerimaan uang dari hasil kegiatan perusahaan. Misalnya Penerimaan Atas Penjualan Tunai, Penerimaan Utang dan Penerimaan Pendapatan.
Format Jurnal Khusus Penerimaan Kas

Contoh :
5 Des perusahaan menjual secara tunai kepada Toko Serba Ada 100 Cengkeh @ Rp.45.000,-
15 Des, diterima dari Fa. Sapu Jagad atas pelunasan utangnya Rp. 3.000.000,
Dijurnal dengan :
Des 5 Kas (D) Rp. 4.500.000,-
Penjualan (K) Rp. 4500.000,-

Des 15 Kas (D) Rp. 3.000.000,-
Piutang Dagang (K) Rp. 3.000.000,-

Jurnal Khusus Penjualan
Digunakan untuk mencatat penjualan barang dagangan dengan syarat kredit, yaitu penjualan menimbulkan hak tagihan kepada pelangan.

Format Jurnal Khusus Penjualan

 Tgl 2 Dijual barang dagang kepada Firma “Arjuna” yaitu : 50 unit binder @ Rp12.000 dan 150 unit
   Drawing pen @ Rp8.000 dengan syarat 2/10, n/30.
Jurnal:
Piutang Dagang(debit) Rp. 1.800.000
Penjualan(kredit) Rp. 1.800.000

Junal Khusus Pembelian
Digunakan untuk mencatat pembelian barang dagangan dengan syarat kredit, yaitu pembelian menimbulkan kewajiabn atau utang kepada pemasok.
Format Junal Khusus Pembelian
Nama Perusahaan Dagang

Tgl 1 Perusahaan membeli barang dagang dari PT. AXC yaitu 100 unit A01 @ Rp10.000 dan 300 unit A02 @
   Rp5.000 secara kredit,syarat 2/10,n/30.

Jurnal:
Pembelian(debit) Rp. 2.500.000
Utang Dagang(kredit)    Rp. 2.500.000
Jurnal Umum
Jurnal umum diperusahaan dagang ini hanya dipakai untuk transaksi retur

-Retur Penjualan-
Pada tanggal 7 Juni 2011 perusahaan menerima kembali barang yang telah dijual kepada PT Andalas sebesar Rp 200.000 karena rusak, secara tunai.
Transaksi tersebut akan dicatat dalam jurnal umum sebagai berikut:
D k
7/6  Retur Penjualan                  Rp 200.000                 -
                           Kas                                          -           Rp 200.000
-Retur Pembelian-
Contoh 2:
Pada tanggal 8 Juni 2011 perusahaan menerima kembali barang yang telah dijual kepada PT Pesantren Baru sebesar Rp 500.000, secara kredit. Transaksi diatas akan dicatat oleh perusahaan dalam jurnal umum sebagai berikut:
      D k
8/6  Retur Penjualan          Rp 500.000                       -
                           Piutang Dagang               -                  Rp 500.000


Keterangan :
(D) = Penulisan dikolom Debet
(K) = Penulisan dikolom Kredit

C. Sistem Persediaan Barang Dagang
1. Sistem Persediaan Periodik
Tidak memberikan catatan yang kontinyu mengenai barang dagang yang dibeli dan dijual
Persediaan dihitung sekurang – kurangnya satu tahun sekali
Digunakan untuk barang yang relatif tidak mahal

2. Sistem Persediaan Perpetual
Memberikan catatan yang kontinyu mengenai barang dagang yang dibeli dan dijual
Persedian dihitung sekurang – kurangnya satu tahun sekali
Digunakan untuk setiap jenis barang.
Syarat – Syarat Pembayaran

n/60 artinya pembeli hanya diberi waktu kredit selama 60 hari

2/10, n/30 artinya pembeli hanya diberi waktu kredit selama 30 hari, dan bila dapat membayar paling lambat 10 dari tanggal jual beli akan diberi potongan 2%

EOM artinya pembeli hanya diberi waktu kredit paling lambat aakhir bulan

N/5, EOM artinya pembeli diberi waktu kredit sampai 5 hari setelah akhir bulan paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya.

PENCATATAN TRANSAKSI AKUNTANSI

Jurnal Umum
Adalah alat untuk mencatat transaksi perusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan waktu terjadinya) dengan menunjukan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing – masing.
Pencatatan transaksi kedalam jurnal umum
Pembelian barang dagang

Pembeli
Dijurnal dengan :
Pembelian (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Pembelian kredit
Dijurnal dengan :
Pembelian (D) Rp……
Utang Dagang (K) Rp…

Biaya Angkut Pembelian
Dikeluarkan untuk ongkos angkut barang dagangan yang dibeli
Dijurnal dengan :
Biaya Angkut Pembelian (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Retur Pembelian dan Pengurangan Harga (PH)
Potongan Pembelian

Pembelian tunai
Dijurnal dengan :
Pembelian (D) Rp……..
Kas (K) Rp…….
Potongan Pembelian (K) Rp…….

Pembelian kredit
Dijurnal dengan :
Utang Dagang (D) Rp……..
Kas (K) Rp……..
Potongan Pembelian (K) Rp…….
Penjualan

Penjualan tunai
Dijurnal dengan :
Kas (D) Rp……..
Penjualan (K) Rp…..

Penjualan kredit
Dijurnal dengan :
Piutang Dagang (D) Rp……..
Penjualan (K) Rp……..

Retur Penjualan

Penjualan tunai
Dijurnal dengan :
Retur Penjualan (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Penjualan  kredit
Dijurnal dengan :
Retur Penjualan (D) Rp…….
Hutang Dagang (K) Rp……..

Potongan Penjualan
Potongan penjualan tunai
Dijurnal dengan :
Potongan Penjualan (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Potongan Penjualan kredit (dapat terjadi bersamaan dengan penerimaan piutang)
Dijurnal dengan :
Kas (D) Rp…….
Potongan Penjualan (D) Rp…….
Piutang Dagang (K) Rp……

Jurnal Khusus
Adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi – transaksi keuangan yang sejenis yang sering kali terjadi sesuai dengan urutan waktu terjadinya.
Macam – Macam Jurnal Khusus
Jurnal Khusus Pengeluaran Kas
Adalah pegeluaran uang dari Kas untuk kegiatan perusahaan. Misalnya Pembayaran Atas Pembelian Tunai, Pembayaran Utang dan Pembayaran Beban.
Format Jurnal Khusus Pengeluaran Kas
Contoh :
1 Des perusahaan membayar atas pembelian pada bulan Nov kepada CV. Panuntun Mulia Rp. 1.500.000,- 
10 Des, dibeli barang secara tunai dari Fa. Seruni Semarang Rp. 5.000.000,-
Dijurnal dengan :
Des 1 Utang dagang (D) Rp. 1.500.000,-
Kas (K) Rp. 1.500.000,-

Des 10 Pembelian (D) Rp. 5.000.000,-
Kas (K) Rp. 5.000.000,-

Jurnal Khusus Penerimaan Kas
Adalah penerimaan uang dari hasil kegiatan perusahaan. Misalnya Penerimaan Atas Penjualan Tunai, Penerimaan Utang dan Penerimaan Pendapatan.
Format Jurnal Khusus Penerimaan Kas
Contoh :
5 Des perusahaan menjual secara tunai kepada Toko Serba Ada 100 Cengkeh @ Rp.45.000,-
15 Des, diterima dari Fa. Sapu Jagad atas pelunasan utangnya Rp. 3.000.000,
Dijurnal dengan :
Des 5 Kas (D) Rp. 4.500.000,-
Penjualan (K) Rp. 4500.000,-

Des 15 Kas (D) Rp. 3.000.000,-
Piutang Dagang (K) Rp. 3.000.000,-

Jurnal Khusus Penjualan
Digunakan untuk mencatat penjualan barang dagangan dengan syarat kredit, yaitu penjualan menimbulkan hak tagihan kepada pelangan.

Format Jurnal Khusus Penjualan
 Tgl 2 Dijual barang dagang kepada Firma “Arjuna” yaitu : 50 unit binder @ Rp12.000 dan 150 unit
   Drawing pen @ Rp8.000 dengan syarat 2/10, n/30.
Jurnal: 
Piutang Dagang(debit) Rp. 1.800.000
Penjualan(kredit) Rp. 1.800.000

Junal Khusus Pembelian
Digunakan untuk mencatat pembelian barang dagangan dengan syarat kredit, yaitu pembelian menimbulkan kewajiabn atau utang kepada pemasok.
Format Junal Khusus Pembelian
Nama Perusahaan Dagang
Tgl 1 Perusahaan membeli barang dagang dari PT. AXC yaitu 100 unit A01 @ Rp10.000 dan 300 unit A02 @
   Rp5.000 secara kredit,syarat 2/10,n/30.

Jurnal: 
Pembelian(debit) Rp. 2.500.000
Utang Dagang(kredit)    Rp. 2.500.000
Jurnal Umum 
Jurnal umum diperusahaan dagang ini hanya dipakai untuk transaksi retur
-Retur Penjualan-
Pada tanggal 7 Juni 2011 perusahaan menerima kembali barang yang telah dijual kepada PT Andalas sebesar Rp 200.000 karena rusak, secara tunai.
Transaksi tersebut akan dicatat dalam jurnal umum sebagai berikut:
D k
7/6  Retur Penjualan                  Rp 200.000                 -
                           Kas                                          -           Rp 200.000
-Retur Pembelian-
Contoh 2:
Pada tanggal 8 Juni 2011 perusahaan menerima kembali barang yang telah dijual kepada PT Pesantren Baru sebesar Rp 500.000, secara kredit. Transaksi diatas akan dicatat oleh perusahaan dalam jurnal umum sebagai berikut:
      D k
8/6  Retur Penjualan          Rp 500.000                       -
                           Piutang Dagang               -                  Rp 500.000

 
Keterangan :
(D) = Penulisan dikolom Debet
(K) = Penulisan dikolom Kredit

C. Sistem Persediaan Barang Dagang
1. Sistem Persediaan Periodik
Tidak memberikan catatan yang kontinyu mengenai barang dagang yang dibeli dan dijual
Persediaan dihitung sekurang – kurangnya satu tahun sekali
Digunakan untuk barang yang relatif tidak mahal

2. Sistem Persediaan Perpetual
Memberikan catatan yang kontinyu mengenai barang dagang yang dibeli dan dijual
Persedian dihitung sekurang – kurangnya satu tahun sekali
Digunakan untuk setiap jenis barang.
Syarat – Syarat Pembayaran

n/60 artinya pembeli hanya diberi waktu kredit selama 60 hari

2/10, n/30 artinya pembeli hanya diberi waktu kredit selama 30 hari, dan bila dapat membayar paling lambat 10 dari tanggal jual beli akan diberi potongan 2%

EOM artinya pembeli hanya diberi waktu kredit paling lambat aakhir bulan

N/5, EOM artinya pembeli diberi waktu kredit sampai 5 hari setelah akhir bulan paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya.

PENCATATAN TRANSAKSI AKUNTANSI

Jurnal Umum
Adalah alat untuk mencatat transaksi perusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan waktu terjadinya) dengan menunjukan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing – masing.
Pencatatan transaksi kedalam jurnal umum
Pembelian barang dagang

Pembeli
Dijurnal dengan :
Pembelian (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Pembelian kredit
Dijurnal dengan :
Pembelian (D) Rp……
Utang Dagang (K) Rp…

Biaya Angkut Pembelian
Dikeluarkan untuk ongkos angkut barang dagangan yang dibeli
Dijurnal dengan :
Biaya Angkut Pembelian (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Retur Pembelian dan Pengurangan Harga (PH)
Potongan Pembelian

Pembelian tunai
Dijurnal dengan :
Pembelian (D) Rp……..
Kas (K) Rp…….
Potongan Pembelian (K) Rp…….

Pembelian kredit
Dijurnal dengan :
Utang Dagang (D) Rp……..
Kas (K) Rp……..
Potongan Pembelian (K) Rp…….
Penjualan

Penjualan tunai
Dijurnal dengan :
Kas (D) Rp……..
Penjualan (K) Rp…..

Penjualan kredit
Dijurnal dengan :
Piutang Dagang (D) Rp……..
Penjualan (K) Rp……..

Retur Penjualan

Penjualan tunai
Dijurnal dengan :
Retur Penjualan (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Penjualan  kredit
Dijurnal dengan :
Retur Penjualan (D) Rp…….
Hutang Dagang (K) Rp……..

Potongan Penjualan
Potongan penjualan tunai
Dijurnal dengan :
Potongan Penjualan (D) Rp…….
Kas (K) Rp…….

Potongan Penjualan kredit (dapat terjadi bersamaan dengan penerimaan piutang)
Dijurnal dengan :
Kas (D) Rp…….
Potongan Penjualan (D) Rp…….
Piutang Dagang (K) Rp……

Jurnal Khusus
Adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi – transaksi keuangan yang sejenis yang sering kali terjadi sesuai dengan urutan waktu terjadinya.
Macam – Macam Jurnal Khusus
Jurnal Khusus Pengeluaran Kas
Adalah pegeluaran uang dari Kas untuk kegiatan perusahaan. Misalnya Pembayaran Atas Pembelian Tunai, Pembayaran Utang dan Pembayaran Beban.
Format Jurnal Khusus Pengeluaran Kas
Contoh :
1 Des perusahaan membayar atas pembelian pada bulan Nov kepada CV. Panuntun Mulia Rp. 1.500.000,- 
10 Des, dibeli barang secara tunai dari Fa. Seruni Semarang Rp. 5.000.000,-
Dijurnal dengan :
Des 1 Utang dagang (D) Rp. 1.500.000,-
Kas (K) Rp. 1.500.000,-

Des 10 Pembelian (D) Rp. 5.000.000,-
Kas (K) Rp. 5.000.000,-

Jurnal Khusus Penerimaan Kas
Adalah penerimaan uang dari hasil kegiatan perusahaan. Misalnya Penerimaan Atas Penjualan Tunai, Penerimaan Utang dan Penerimaan Pendapatan.
Format Jurnal Khusus Penerimaan Kas
Contoh :
5 Des perusahaan menjual secara tunai kepada Toko Serba Ada 100 Cengkeh @ Rp.45.000,-
15 Des, diterima dari Fa. Sapu Jagad atas pelunasan utangnya Rp. 3.000.000,
Dijurnal dengan :
Des 5 Kas (D) Rp. 4.500.000,-
Penjualan (K) Rp. 4500.000,-

Des 15 Kas (D) Rp. 3.000.000,-
Piutang Dagang (K) Rp. 3.000.000,-

Jurnal Khusus Penjualan
Digunakan untuk mencatat penjualan barang dagangan dengan syarat kredit, yaitu penjualan menimbulkan hak tagihan kepada pelangan.

Format Jurnal Khusus Penjualan
 Tgl 2 Dijual barang dagang kepada Firma “Arjuna” yaitu : 50 unit binder @ Rp12.000 dan 150 unit
   Drawing pen @ Rp8.000 dengan syarat 2/10, n/30.
Jurnal: 
Piutang Dagang(debit) Rp. 1.800.000
Penjualan(kredit) Rp. 1.800.000

Junal Khusus Pembelian
Digunakan untuk mencatat pembelian barang dagangan dengan syarat kredit, yaitu pembelian menimbulkan kewajiabn atau utang kepada pemasok.
Format Junal Khusus Pembelian
Nama Perusahaan Dagang
Tgl 1 Perusahaan membeli barang dagang dari PT. AXC yaitu 100 unit A01 @ Rp10.000 dan 300 unit A02 @
   Rp5.000 secara kredit,syarat 2/10,n/30.

Jurnal: 
Pembelian(debit) Rp. 2.500.000
Utang Dagang(kredit)    Rp. 2.500.000
Jurnal Umum 
Jurnal umum diperusahaan dagang ini hanya dipakai untuk transaksi retur
-Retur Penjualan-
Pada tanggal 7 Juni 2011 perusahaan menerima kembali barang yang telah dijual kepada PT Andalas sebesar Rp 200.000 karena rusak, secara tunai.
Transaksi tersebut akan dicatat dalam jurnal umum sebagai berikut:
D k
7/6  Retur Penjualan                  Rp 200.000                 -
                           Kas                                          -           Rp 200.000
-Retur Pembelian-
Contoh 2:
Pada tanggal 8 Juni 2011 perusahaan menerima kembali barang yang telah dijual kepada PT Pesantren Baru sebesar Rp 500.000, secara kredit. Transaksi diatas akan dicatat oleh perusahaan dalam jurnal umum sebagai berikut:
      D k
8/6  Retur Penjualan          Rp 500.000                       -
                           Piutang Dagang               -                  Rp 500.000

 
Keterangan :
(D) = Penulisan dikolom Debet
(K) = Penulisan dikolom Kredit

C. Sistem Persediaan Barang Dagang
1. Sistem Persediaan Periodik
Tidak memberikan catatan yang kontinyu mengenai barang dagang yang dibeli dan dijual
Persediaan dihitung sekurang – kurangnya satu tahun sekali
Digunakan untuk barang yang relatif tidak mahal

2. Sistem Persediaan Perpetual
Memberikan catatan yang kontinyu mengenai barang dagang yang dibeli dan dijual
Persedian dihitung sekurang – kurangnya satu tahun sekali
Digunakan untuk setiap jenis barang.




Tugas Bahasa Inggris

Nama                : Anggreini Bunga Uli Lumban Gaol Kelas                : 4KA16 NPM                : 11114251 Bahasa Indonesia ...